TpOlTpAoBUMoTUOlGpC0GUd7GA==
Breaking
News

Menghitung Peta Suara Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama: Peluang Koalisi dan Arah Kontestasi

Ukuran huruf
Print 0
Ilustrasi HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur saat memberikan pandangan tentang Muktamar NU ke-35. (ChatGPT/ GKSBASRA.COM)
Oleh: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur

Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, dinamika internal organisasi kian menghangat. Sejumlah manuver mulai terlihat di ruang publik maupun dalam konsolidasi tertutup, baik dalam bentuk pencalonan diri maupun pengusungan figur tertentu. Pola kontestasi pun kian terang terbaca dalam format berpasangan antara calon Ketua Umum dan calon Rais Aam, yang oleh banyak kalangan mulai disebut sebagai “paslon”.

Secara formal, posisi Rais Aam memang ditentukan melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun dalam praktik politik organisasi, komposisi AHWA kerap tidak steril dari pengaruh relasi, jaringan, dan kepentingan para aktor utama. Dalam konteks ini, pasangan Ketua Umum dan Rais Aam menjadi satu paket kekuatan yang saling menopang.

Berdasarkan pencermatan dinamika di lapangan, terdapat beberapa poros utama yang mulai mengkristal. Petahana Ketua Umum, Yahya Cholil Staquf, saat ini tengah berupaya mencari figur Rais Aam yang mampu memperluas legitimasi sekaligus memperkuat basis dukungannya.

Di sisi lain, Rais Aam petahana Miftachul Akhyar berada dalam konfigurasi bersama Sekretaris Jenderal Saifullah Yusuf. Keduanya saat ini dikabarkan tengah menjajaki sejumlah nama untuk diusung sebagai calon Ketua Umum dalam kontestasi mendatang.

Poros lain yang tak kalah menarik adalah kemunculan Menteri Agama Nazaruddin Umar. Figur ini disebut-sebut mendapat dukungan dari lingkar kekuasaan, meski hingga kini masih dalam tahap pencarian pasangan untuk posisi Rais Aam.

Sementara itu, jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII juga menjadi kekuatan signifikan. Di dalamnya terjadi kontestasi internal di antara sejumlah nama seperti KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudhori, KH Imam Jazuli, dan KH Abdul Ghoffar Rozin. Meski demikian, poros ini relatif solid dalam mengerucutkan dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.

Dari Jawa Timur, muncul dua poros yang tak bisa diabaikan. Pertama, jaringan PWNU yang mendorong KH Abdul Hakim Mahfuz, meski masih dalam tahap pencarian pasangan Rais Aam. Kedua, poros alternatif yang mengusung Marzuki Mustamar, yang disebut telah lebih jelas dengan mengarah pada dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.

Jika ditarik pada peta kekuatan suara, kontestasi ini menjadi semakin menarik. Jaringan PKB–IKA PMII diperkirakan menguasai sekitar 250 suara secara nasional. Sementara jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama memiliki sekitar 130 suara. Adapun basis petahana Ketua Umum diperkirakan mencapai sekitar 100 suara, dengan jumlah yang relatif seimbang juga dimiliki oleh Rais Aam petahana dan Sekjen. Di luar itu, terdapat sekitar 70 hingga 80 suara yang masih mengambang.

Dengan konfigurasi tersebut, peluang terbesar secara matematis tampak berada pada jaringan PKB–IKA PMII. Potensi ini akan semakin besar apabila mampu menjalin koalisi dengan jaringan Kementerian Agama. Jika kedua kekuatan ini berpadu, maka akumulasi suara dapat mendekati 400—angka yang sangat menentukan dalam kontestasi.

Namun realitas politik tidak selalu linear. Di satu sisi, Nazaruddin Umar memiliki kepentingan maju sebagai Ketua Umum, sementara di sisi lain jaringan PKB–PMII juga berambisi mengusung kadernya sendiri. Di sinilah ruang kompromi menjadi faktor penentu arah koalisi.

Skenario menarik pun mengemuka: apakah mungkin jaringan PKB–PMII melepas ambisi Ketua Umum dan memberikan ruang kepada Nazaruddin Umar, dengan imbalan posisi Rais Aam tetap dipegang Said Aqil Siradj? Jika konfigurasi ini terjadi dan mendapat dukungan dari Muhaimin Iskandar serta Nusron Wahid, maka peta Muktamar bisa berubah drastis.

Meski demikian, dinamika Muktamar NU tidak pernah berjalan dalam satu poros tunggal. Kekuatan petahana tetap memiliki peluang besar untuk membangun poros tandingan. Yahya Cholil Staquf, misalnya, berpotensi membangun pasangan alternatif dengan figur seperti KH Asep Saifuddin Chalim atau Ma'ruf Amin sebagai Rais Aam.

Selain itu, kemungkinan pasangan lain juga tetap terbuka, seperti KH Zulfa Mustofa yang berpasangan dengan Miftachul Akhyar, atau konfigurasi dari Jawa Timur yang mempertemukan Marzuki Mustamar dengan Ma’ruf Amin yang memiliki basis kultural luas di kalangan nahdliyin.

Pertanyaan krusial kemudian mengemuka: apakah para kandidat dalam jaringan PKB–IKA PMII bersedia menahan ambisi demi koalisi besar? Ataukah mereka tetap mendorong konfigurasi sendiri tanpa kompromi?

Di titik ini, Muktamar ke-35 NU tampak akan sangat ditentukan oleh dua kekuatan utama, yakni jaringan PKB–IKA PMII dan jaringan Kementerian Agama. Jika keduanya berpadu, maka poros lain berpotensi hanya menjadi pelengkap dalam kontestasi.

Di tengah seluruh dinamika tersebut, muncul satu pesan penting yang tak boleh diabaikan: menjaga kemandirian NU dari intervensi kekuasaan. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa masuknya kepentingan politik praktis berpotensi merusak marwah organisasi.

Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk menegaskan kembali posisi NU sebagai organisasi yang mandiri, tidak tunduk pada kepentingan jangka pendek, dan tetap konsisten sebagai kekuatan moral bangsa. Sebagai organisasi yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa, kehormatan NU harus tetap dijaga.

Pada akhirnya, membaca dinamika Muktamar NU ke-35 adalah membaca pertemuan antara kepentingan, jaringan, dan nilai. Peta “paslon” yang terbentuk hari ini masih sangat mungkin berubah. Namun satu hal yang pasti, arah NU ke depan akan sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam forum tersebut.

Harapannya, Muktamar ke-35 benar-benar menjadi ruang konsolidasi untuk mengembalikan NU sebagai organisasi yang berdaulat, bermartabat, dan bebas dari intervensi kekuasaan. Sebab hanya dengan kemandirian itulah, NU dapat terus berdiri kokoh sebagai penjaga moral bangsa.
Menghitung Peta Suara Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama: Peluang Koalisi dan Arah Kontestasi
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin