TpOlTpAoBUMoTUOlGpC0GUd7GA==
Breaking
News

Gus Lilur Soroti Arah Nahdlatul Ulama Jelang Muktamar: Waspadai Tarikan Politik, Kembalikan ke Jalur Ulama

Ukuran huruf
Print 0
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau akrab disapa Gus Lilur (kanan) saat bersilaturahmi dengan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar (kanan). (Foto: Istimewa)
GKSBASRA.COM, JAKARTA - Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama, dinamika internal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini mulai menghangat. Sejumlah tokoh dan kalangan nahdliyin menyuarakan harapan sekaligus kegelisahan terhadap arah masa depan NU. Salah satunya datang dari HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur.

Dalam keterangannya, Gus Lilur menilai bahwa muktamar mendatang bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum penting yang akan menentukan arah NU ke depan. Ia menegaskan, NU sedang berada di persimpangan antara tetap menjaga jati diri sebagai organisasi keulamaan atau semakin terjebak dalam pusaran politik praktis.

“NU ini didirikan oleh para ulama besar dengan fondasi ilmu dan akhlak, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” ujar Gus Lilur dalam wawancara. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai dasar tersebut harus tetap menjadi pijakan utama dalam setiap langkah organisasi.

Menurutnya, fenomena yang terjadi belakangan menunjukkan adanya kecenderungan kaburnya batas antara organisasi keagamaan dan politik. Ia mencontohkan munculnya sejumlah nama tokoh seperti Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf dalam dinamika NU yang dinilai memperkuat persepsi tersebut.

Selain itu, Gus Lilur juga menyinggung kepemimpinan Ketua Umum PBNU saat ini, Yahya Cholil Staquf, yang menurutnya perlu dievaluasi secara terbuka dalam forum muktamar. Ia menekankan bahwa evaluasi tersebut bukan bersifat personal, melainkan demi menjaga marwah organisasi.

“Ini bukan soal pribadi, tapi soal marwah. NU harus dijaga agar tidak menjadi panggung politisi. Kalau dibiarkan, lama-lama kepercayaan umat bisa terkikis,” tegasnya.

Lebih jauh, Gus Lilur juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung”. Istilah ini merujuk pada oknum yang dinilai memanfaatkan NU sebagai alat legitimasi untuk kepentingan pribadi maupun politik. Ia menyayangkan adanya kecenderungan sebagian pengurus yang lebih fokus membangun jejaring kekuasaan dibanding memperkuat tradisi keilmuan.

“Kita ini punya tradisi besar, punya pesantren, punya bahtsul masail. Tapi kenapa yang tampil justru bukan yang paling alim, melainkan yang paling dekat dengan kekuasaan,” ujarnya dengan nada kritis.

Di sisi lain, Gus Lilur menegaskan bahwa NU tidak kekurangan figur berkualitas yang memiliki kapasitas keulamaan dan intelektualitas tinggi. Ia menyebut sejumlah nama tokoh yang dinilai layak menjadi rujukan dalam kepemimpinan ke depan.

Beberapa di antaranya adalah Nasaruddin Umar, Said Aqil Siradj, Abdus Salam Shohib, Yusuf Chudlory, Zulfa Mustofa, hingga Bahauddin Nursalim. Menurutnya, tokoh-tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan yang jelas dan rekam jejak yang kredibel.

“NU ini kaya tokoh. Jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik,” paparnya.

Ia menekankan bahwa muktamar harus menjadi momentum pemurnian organisasi. Para peserta muktamar diharapkan memiliki keberanian moral untuk memilih pemimpin yang berangkat dari tradisi keilmuan, bukan kepentingan elektoral.

“Sudah saatnya kita bilang cukup pada pengurus yang haus kekuasaan. NU bukan batu loncatan politik. Kalau mau berpolitik, silakan di partai, jangan bawa-bawa NU,” ujarnya tegas.

Lebih lanjut, Gus Lilur mengingatkan pentingnya menjaga independensi NU agar tetap menjadi penyejuk dan penuntun umat. Ia menilai, jika NU terlalu dekat dengan kekuasaan, maka perannya sebagai penjaga moral bangsa akan semakin melemah.

“NU harus berdiri di atas semua golongan, bukan menjadi bagian dari kepentingan tertentu. Itu prinsip yang harus kita jaga,” imbuhnya.

Ia juga mendorong agar muktamar ke depan mengembalikan fokus pada penguatan ekosistem intelektual, mulai dari pesantren, forum bahtsul masail, hingga pengembangan pemikiran Islam yang adaptif terhadap tantangan zaman.

“Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau NU sibuk di politik, lama-lama hanya akan diperalat,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Gus Lilur menegaskan bahwa muktamar kali ini merupakan ujian sejarah bagi NU. Ia berharap para kiai dan ulama dapat mengambil keputusan yang berpihak pada masa depan jam’iyah, bukan sekadar kepentingan jangka pendek.

“Ini bukan soal hari ini saja, ini soal masa depan NU dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan. Itu yang sedang dipertaruhkan,” pungkas Khalilur R Abdullah Sahlawiy.
Gus Lilur Soroti Arah Nahdlatul Ulama Jelang Muktamar: Waspadai Tarikan Politik, Kembalikan ke Jalur Ulama
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin