TpOlTpAoBUMoTUOlGpC0GUd7GA==
Breaking
News

Dari Jalan Becek ke Akses Produktif: Lapen Desa Lamongan Jadi Tumpuan Baru Petani Situbondo

Ukuran huruf
Print 0

Situbondo — Di banyak desa, persoalan klasik petani bukan hanya soal hasil panen, tetapi bagaimana membawa hasil itu keluar dari lahan. Di Desa Lamongan, Kecamatan Arjasa, problem tersebut perlahan terurai setelah pemerintah desa membangun jalan lapen melalui skema swakelola.

Sebelumnya, akses jalan menuju area pertanian kerap berubah menjadi lintasan becek saat musim hujan. Aktivitas distribusi tersendat, biaya angkut meningkat, bahkan tidak jarang hasil panen terlambat sampai ke pasar.

Kini situasinya berbalik. Jalan yang telah diperkeras membuat mobilitas petani lebih stabil dan terukur. Waktu tempuh menjadi lebih singkat, risiko kerusakan hasil panen menurun, dan aktivitas ekonomi desa bergerak lebih lancar.

“Dulu kalau hujan, motor sering tidak bisa lewat. Kadang harus dituntun, bahkan pernah jatuh. Sekarang sudah jauh lebih mudah,” ujar salah satu petani setempat, menggambarkan perubahan yang dirasakan secara langsung.

Kepala Desa Lamongan menegaskan bahwa pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari strategi menjawab kebutuhan riil masyarakat. “Kami ingin memastikan petani memiliki akses yang layak. Kalau jalannya baik, distribusi lancar, ekonomi warga juga ikut bergerak,” ujarnya.

Pendekatan swakelola yang diterapkan menjadi faktor kunci. Selain mempercepat pelaksanaan, pola ini juga membuka ruang partisipasi masyarakat serta memastikan dana desa berputar di lingkungan lokal. Dalam konteks pembangunan desa, model ini dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan lapangan.
Apresiasi datang dari kalangan masyarakat sipil. Aktivis Dicky Edwin, SH bersama Wahyudi, Sekretaris Jenderal DPP LSM Teropong, menilai pembangunan infrastruktur desa seperti lapen memiliki dampak berlapis yang kerap luput dari perhatian.

“Jalan desa itu bukan sekadar akses. Ini menyangkut efisiensi biaya produksi, kelancaran distribusi, hingga daya tawar petani. Kalau infrastruktur dibenahi, efeknya sistemik terhadap ekonomi desa,” ujarnya.

Lebih jauh, pembangunan jalan lapen juga berfungsi sebagai mitigasi terhadap risiko musiman. Saat curah hujan tinggi, akses yang sebelumnya menjadi hambatan kini tetap dapat dilalui, sehingga rantai pasok hasil pertanian tidak lagi terganggu secara signifikan.

Dalam kerangka yang lebih luas, apa yang dilakukan Pemerintah Desa Lamongan mencerminkan arah pembangunan desa yang mulai bergeser dari sekadar realisasi anggaran menuju penciptaan dampak ekonomi yang terukur.

Jalan lapen mungkin terlihat sederhana. Namun bagi petani, ia adalah penghubung antara produksi dan pasar, antara kerja keras di lahan dan nilai ekonomi yang bisa dibawa pulang.

Dan di Desa Lamongan, jalan itu kini tidak lagi menjadi hambatan melainkan tumpuan.
Dari Jalan Becek ke Akses Produktif: Lapen Desa Lamongan Jadi Tumpuan Baru Petani Situbondo
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin