SUMENEP – Komitmen membangun industri hasil tembakau berbasis kerakyatan terus diperkuat oleh Rokok Bintang Sembilan (RBS) Situbondo. Sebanyak 12 orang Tim RBS Situbondo saat ini tengah mengikuti proses pembelajaran pembuatan Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah strategis RBS Situbondo dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sebelum memulai produksi SKT secara mandiri di Situbondo. Tim tersebut sebelumnya juga melakukan rangkaian pembelajaran dan observasi langsung di Pamekasan dan Sumenep, dua daerah yang dikenal sebagai sentra industri rokok kretek tangan di Madura.
Dokumentasi kegiatan Tim RBS Situbondo diketahui diambil di MYZE Hotel Sumenep, lokasi tempat tim menginap selama menjalani agenda pembelajaran intensif di wilayah tersebut.
Belajar Langsung di KIHT Sumenep
KIHT Sumenep merupakan kawasan industri hasil tembakau yang dibina langsung oleh Pemerintah Kabupaten Sumenep, khusus diperuntukkan bagi pengembangan pabrik rokok SKT, terutama skala UMKM. Kawasan ini menjadi pusat transfer pengetahuan, keterampilan linting manual, manajemen produksi, hingga pengendalian mutu rokok kretek tangan.
Keikutsertaan Tim RBS Situbondo di KIHT Sumenep menandai keseriusan RBS dalam membangun industri rokok yang legal, terstruktur, dan berorientasi pada pemberdayaan tenaga kerja lokal.
Lima Pabrik Rokok UMKM Siap Dibangun di Situbondo
Sebagai tahap awal, RBS Situbondo telah menyiapkan lima Pabrik Rokok (PR) UMKM yang akan menjadi tulang punggung produksi SKT di Situbondo. Kelima PR tersebut berada di bawah naungan RBS, dengan identitas sebagai berikut:
PR. Lo Nyo
PR. Ngi Nyong
PR. Nyo Nok
PR. Ko Bessa
PR. La Kapra
Kelima PR ini tergabung dalam satu konsep besar bertajuk “Longi Nyo Ko La”, yang diharapkan menjadi simbol kolaborasi, kearifan lokal, dan semangat industri mandiri berbasis kerakyatan.
Dorong Ekonomi Lokal dan Serapan Tenaga Kerja
Pengembangan pabrik rokok SKT di Situbondo tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, khususnya bagi masyarakat lokal, serta menghidupkan kembali ekosistem tembakau rakyat.
Dengan mengadopsi sistem SKT yang padat karya, RBS Situbondo menargetkan agar kehadiran lima PR UMKM tersebut dapat memberikan dampak ekonomi nyata, sekaligus menjadi model pengembangan industri tembakau yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Menuju Industri SKT Situbondo yang Berdaya Saing
Langkah belajar langsung ke KIHT Sumenep ini menjadi fondasi penting sebelum RBS Situbondo memasuki fase produksi. Dengan SDM yang terlatih, sistem yang tertata, serta dukungan konsep UMKM, RBS optimistis Situbondo mampu melahirkan produk rokok SKT berkualitas, berdaya saing, dan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.
Ke depan, RBS Situbondo menegaskan komitmennya untuk terus bergerak dalam koridor hukum, mendukung kebijakan pemerintah, serta menjadikan industri tembakau sebagai sarana pemberdayaan ekonomi masyarakat.
0Komentar