![]() |
| HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur dalam podcast Madilog |
Kritik tersebut sekaligus menjadi alasan Gus Lilur kembali menggaungkan slogan “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU”. Baginya, kecintaan dan komitmen terhadap NU tidak harus diwujudkan melalui keterikatan terhadap struktur PBNU.
Gus Lilur menyampaikan kritik tersebut dengan merujuk pada dua pidato KH Miftahul Akhyar. Pertama, pidato penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan. Kedua, pidato pembukaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Menurut Gus Lilur, kedua pidato tersebut menjadi bagian yang membuat dirinya mempertanyakan kapasitas Rais Aam PBNU. Ia bahkan mengaku meminta timnya membuat dua video yang menampilkan seorang anak usia sekolah dasar atau ibtidaiyah memberikan komentar terhadap isi pidato tersebut.
“Kalau Anda menemukan dua video Siti, anak ibtidaiyah yang mengomentari dua pidato Rais Aam PBNU Kyai Miftahul Akhyar, itu saya yang bikin. Saya minta tim saya untuk membuat video tersebut,” ujar Gus Lilur.
Gus Lilur mengklaim video tersebut dibuat sebagai bentuk kritik terhadap isi pidato Rais Aam. Ia bahkan memberikan penilaian sangat keras dengan menyebut video itu sebagai “fakta dan bukti” yang menurutnya menunjukkan persoalan kapasitas keilmuan.
Dalam pernyataannya, Gus Lilur menyebut Rais Aam PBNU sebagai sosok yang menurut penilaiannya “awam” dan jauh dari kata alim. Ia bahkan menggunakan istilah “ngiyai” sebagai bentuk sindiran terhadap apa yang menurutnya merupakan penampilan atau gaya yang menyerupai seorang kiai.
“Video itu fakta dan bukti bahwa Rais Aam PBNU awam dan tidak punya kapasitas, bahkan tidak layak disebut kiai melainkan ngiyai, berakting ala kiai. Memalukan,” kata Gus Lilur.
Penilaian tersebut merupakan kritik pribadi Gus Lilur terhadap KH Miftahul Akhyar. Adapun tudingan mengenai kapasitas keilmuan, isi pidato, maupun istilah yang digunakan Gus Lilur tersebut merupakan klaim dan penilaian yang masih menjadi bagian dari pernyataan pihak pengkritik dan belum dapat diposisikan sebagai kesimpulan redaksi.
Tak hanya berhenti pada dua video tersebut, Gus Lilur juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengkritisi pidato Rais Aam dalam penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan. Ia mengaku kritik tersebut telah dipublikasikan melalui sekitar 80 media.
Materi kritik itu, menurut Gus Lilur, antara lain menggunakan narasi “Rais Aam Awam, plagiat, salah pasang harkat.” Ia kemudian mempersilakan publik untuk mencari sendiri materi tersebut melalui mesin pencarian internet.
Kritik Gus Lilur kemudian bermuara pada sikap politik-organisasional yang ia sebut sebagai “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU.” Ia menegaskan bahwa ber-NU, menurut pemahamannya, tidak identik dengan harus mengikuti atau menjadi bagian dari kepengurusan PBNU.
Bagi Gus Lilur, inti ber-NU adalah menjalankan Islam melalui tradisi keagamaan yang selama ini diajarkan para ulama NU. Ia menyebut tiga fondasi utama, yakni bermadzhab Syafi’iy, berakidah Asy’ariy, serta bertasawuf dengan mengikuti tradisi Imam Junaid Al-Baghdadi dan atau Imam Al-Ghazali.
“Ber-NU bagi saya adalah beragama Islam dengan cara NU. Bermadzhab Syafi’iy, berakidah Asy’ariy, dan bertasawuf ala Imam Junaid Al-Baghdadi dan atau Imam Al-Ghazali,” jelasnya.
Karena itu, Gus Lilur menilai seseorang tetap dapat menjalankan ajaran dan tradisi ke-NU-an tanpa harus terikat dengan struktur PBNU. Ia mengaku lebih memilih berpegang pada ajaran para kiai alim yang selama ini menjadi tempatnya berguru.
“Para kiai alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut. Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU,” tegasnya.
Gus Lilur kemudian mengaitkan sikap tersebut dengan kritiknya terhadap Rais Aam PBNU. Ia mengaku tidak ingin dipimpin oleh sosok yang menurut penilaiannya tidak memiliki kapasitas keilmuan yang cukup.
“Karena Rais Aam awam, saya yang berguru pada banyak kiai alim di NU menolak dipimpin kiai awam,” ungkapnya.
Ia menegaskan, sikap kritisnya terhadap PBNU tidak otomatis berarti dirinya meninggalkan NU. Sebaliknya, Gus Lilur menyebut dirinya tetap sebagai warga NU dan tetap berpegang pada tradisi keagamaan NU.
“Ber-NU tanpa ber-PBNU,” pungkas Gus Lilur.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kritik Gus Lilur tidak hanya menyasar persoalan organisasi, tetapi juga menyentuh persoalan otoritas keilmuan dan kepemimpinan tertinggi di tubuh PBNU. Namun, untuk menjaga keberimbangan, penilaian tersebut tetap perlu dikonfirmasi kepada KH Miftahul Akhyar maupun pihak PBNU.

0Komentar