TpOlTpAoBUMoTUOlGpC0GUd7GA==
Breaking
News

Perjuangan Madrasah Mathla’ul Ihsan Situbondo: Bangkit di Tengah Kendala Izin dan Bangunan

Ukuran huruf
Print 0
Para siswa Madrasah Mathla’ul Ihsan Duwet, Kabupaten Situbondo. (Foto: Istimewa)
PENDIDIKAN, GKS BASRA - Di sebuah sudut tenang di Dusun Duwet Selatan, Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, berdiri sebuah madrasah yang menyimpan kisah panjang tentang harapan, kehilangan, dan kebangkitan. Namanya Madrasah Mathla’ul Ihsan, sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang pernah menjadi cahaya bagi masyarakat sekitar.

Madrasah ini bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang tumbuh bagi generasi muda, tempat nilai-nilai agama ditanamkan, sekaligus pusat aktivitas sosial dan spiritual warga. Di masa lalu, halaman madrasah ini tak pernah sepi. Suara lantunan ayat suci dan diskusi kitab kuning menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Didirikan sebelum tahun 2000 oleh ulama kharismatik Kyai Asy’ari Ihsan, madrasah ini lahir dari semangat dakwah dan pengabdian. Dengan sanad keilmuan dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, beliau membangun pondasi pendidikan Islam yang kuat bagi masyarakat Desa Duwet dan sekitarnya.

Pada masa kejayaannya, Mathla’ul Ihsan bukan hanya dikenal di tingkat lokal. Santri dari berbagai daerah seperti Bondowoso hingga Pulau Sepudi, Madura, datang untuk menimba ilmu. Mereka tinggal sementara, mendalami kitab kuning, dan kembali dengan bekal keilmuan yang mumpuni.

Kekuatan madrasah ini tak lepas dari peran masyarakat. Gotong royong menjadi napas utama. Warga bersama-sama membangun ruang kelas, menjaga keberlangsungan kegiatan, hingga memastikan anak-anak mereka tetap belajar di sana. Madrasah menjadi milik bersama.

Namun waktu membawa perubahan. Tahun 2020 menjadi titik yang mengubah segalanya. Wafatnya Kyai Asy’ari Ihsan meninggalkan kekosongan yang sulit tergantikan. Perlahan, aktivitas madrasah meredup. Kelas-kelas yang dulu penuh mulai sepi, bahkan sempat nyaris berhenti total.

“Setelah Bapak Kyai wafat, madrasah ini sempat tidak terurus sekitar lima tahunan,” kenang Abdul Azis, salah satu alumni. Saat itu, putri beliau masih menempuh pendidikan di pesantren sehingga belum bisa melanjutkan perjuangan sang ayah.

Meski begitu, kenangan masa kejayaan tetap melekat. “Dulu banyak sekali santri dari luar daerah. Bahkan ada yang datang khusus untuk belajar kitab kuning beberapa minggu di sini,” ujar Azis, mengenang masa ketika madrasah menjadi magnet keilmuan.
Situasi belajar mengajar di Madrasah Mathla’ul Ihsan Duwet Kabupaten Situbondo. (Foto: Istimewa)
Harapan mulai menemukan jalannya kembali pada pertengahan 2025. Nyai Arifatus Shalihah, putri almarhum, mengambil langkah berani. Ia memutuskan untuk menghidupkan kembali madrasah yang sempat terhenti. Perlahan, ia merapikan kepengurusan dan mengajak masyarakat untuk kembali bergerak bersama.

Dukungan pun mulai mengalir. Pemerintah Desa Duwet turut hadir memberi bantuan, mulai dari fasilitas sederhana seperti kipas angin hingga dukungan dana. Lebih dari itu, ada komitmen untuk menjaga agar madrasah tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan generasi muda.
Pemerintah Desa Duwet saat menyerahkan bantuan kepada Madrasah Mathla’ul Ihsan
Di tengah dominasi pendidikan formal, tantangan tentu tidak ringan. Namun semangat untuk tetap bertahan justru menjadi kekuatan. “Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan pemahaman agama yang kuat,” menjadi tekad yang terus dijaga.

Kini, suasana madrasah mulai hidup kembali. Sekitar 50 santri aktif mengikuti kegiatan belajar setiap sore. Dari pukul 15.30 hingga 17.00 WIB, mereka kembali memenuhi ruang kelas, mempelajari tauhid, fiqih, hingga Al-Qur’an.
Kondisi ruangan yang belum di renovasi 
Di sisi lain, pembangunan fisik juga terus berjalan. Beberapa ruang kelas telah diperbaiki, sementara lainnya masih menunggu uluran tangan para dermawan. Gotong royong kembali menjadi kunci, seperti di masa awal berdirinya.

Proses administrasi pun tengah diupayakan. Legalitas sebagai Madrasah Diniyah Takmiliyah sedang diajukan kembali setelah sebelumnya mengalami kendala. Harapannya, semua proses berjalan lancar agar madrasah memiliki kekuatan hukum yang jelas.

Kisah Madrasah Mathla’ul Ihsan adalah potret tentang keteguhan. Tentang bagaimana sebuah lembaga kecil di desa mampu bertahan melewati kehilangan, dan perlahan bangkit kembali berkat kebersamaan.

Di tengah perubahan zaman, madrasah ini kembali menyalakan harapan. Bahwa pendidikan berbasis nilai dan akhlak akan selalu memiliki tempat, selama ada mereka yang percaya dan terus merawatnya.
Perjuangan Madrasah Mathla’ul Ihsan Situbondo: Bangkit di Tengah Kendala Izin dan Bangunan
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin